Header-biasa

Sikap Tuhan menerima semua orang, termasuk pendosa yang bertobat disambut dengan penuh kasih dan pengampunan. Setelah Yesus doa pagi di bukit Zaitun, Ia berada di Bait Allah untuk mengajar. Banyak orang datang mendengarkan Dia. Namun ahli-ahli Taurat dan orang Farisi menghadapkan seorang perempuan yang kedapatan zina untuk dirajam. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari dengan batu perempuan -perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal ini?”

Mereka ingin mencobai Yesus dan ingin bukti bahwa Tuhan tidak menghukum melainkan mengampuni semua orang berdosa yang bertobat. Yesus menunjukkan kasih Allah dan mendidik mereka untuk menghilangkan budaya mengadili dan menghukum sesama. “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.” Lalu Yesus membukuk dan menulis di tanah apa yang telah dikatakan. Semua orang membaca dan mengundurkan diri karena sadar dan merasa berdosa.

Yesus menyadarkan kita bahwa kita semua berdosa. Kita diajak untuk bertobat dan menggunakan sakramen tobat pada saat ini untuk mempersiapkan hari Raya Paskah. Yesus juga mengajarkan kepada kita untuk berhenti menghakimi, menyalahkan dan mengukum sesama. Sebaliknya sikap kasih, penerimaan dan pengampunan yang kita kembangkan itu yang akan mendukung sesama untuk berkembang dalam hidup menjadi lebih baik dan lebih sehat.

Sapaan Yesus terhadap perempuan yang kedapatan berbuat dosa sungguh menyentuh hati. “Hai perempuan, dimanakah mereka? Tidak ada seorangkah yang menghukum Engkau? Tidk ada Tuan. Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Yesus berhasil menyadarkan mereka dan menghentikan budaya menghakimi, menghukum dan membunuh sesama. Yesus menawarkan budaya kasih dan pengampunan. Mari kita bertobat, kita gunakan sakramen tobat. Tuhan tidak menghukum, justru memberikan pengampunan dan kebahagian hidup.

Tuhan kami bersyukur atas kasih dan pengampunan-Mu yang menghentikan kekerasan dan sikap saling menghakimi dan menghukum sesama. Kasih dan pengampunan-Mu telah memberikan harpan akan hidup yang baru. Kami mohon berikanlah kami hati yang baru, yakni hati yang penuh penyesalan, tobat dan hati yang rela mengampuni sesama kami. Amin.

Bidaracina 3 April 2022, Blasius Sumaryo SCJ