Header-biasa

Peresmian Bank Sampah “Berkah Alam Semesta”
Bersama Kelola Sampah menjadi Berkah

“Bersama Kelola Sampah”. Itulah kepanjangan dari akronim “Berkah” yang menjadi nama bank sampah Paroki Bidaracina: Bank Sampah Berkah Alam Semesta, atau biasa disingkat BS BAS. “Diharapkan semua nasabah kita bergotong royong mewujudkan rencana dan cita-cita BS BAS ini, yaitu mengelola sampah sehingga menjadi berkah.” Demikian ungkap Heribertus Sugijarto, Ketua Bank Sampah Berkah Alam Semesta, dalam laporannya di hadapan Lurah Bidaracina, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Ketua RW 05 Bidaracina, jajaran Dewan Paroki Harian (DPH) Paroki Bidaracina, serta segenap nasabah dan simpatisan BS BAS yang menghadiri peresmiannya pada Sabtu, 29 Februari, di tenda BS BAS, di area parkir PSAA Vincentius Puteri.

Acara di pagi yang cerah itu diawali dengan sambutan singkat dan doa pembukaan oleh Yohanes Sukarmin, DPH Pendamping Seksi Keadilan dan Perdamaian (SKP) yang membawahi Subseksi Lingkungan Hidup sebagai ‘induk’ BS BAS, selanjutnya Veronica B. Vonny (Ve), Sekretaris BS BAS, yang menjadi MC acara ini, mengajak hadirin menyanyikan “Indonesia Raya”.

Ato—panggilan akrab Sugijarto—juga menyampaikan harapannya agar nasabah BS BAS ini makin bertambah, termasuk juga warga sekitar Gereja St. Antonius, khususnya warga RW 05 Kelurahan Bidaracina yang tinggal paling dekat dengan gereja. Ato juga mengemukakan moto BS BAS, yakni: “DJITU” (Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, Ulet) dan “Ora et Labora” (Berdoa dan Bekerja). Ia merasa bangga dan senang karena pada kegiatan operasional terakhir, truk yang mengangkut sampah nasabah bisa tambah 1 truk lagi sehingga menjadi 2 truk. Memang, dalam setiap operasional BS BAS, tiap nasabah rata-rata membawa sampah berkarung-karung, bahkan ada beberapa nasabah yang membawa sampahnya semobil penuh. 

Ve—yang juga Ketua Seksi Komsos Bidaracina—menambahkan laporan tentang jumlah nasabah dan total tabungan nasabah. Pada Operasional I, Sabtu, 30 November 2019, terdaftar 35 nasabah personal (atas nama pribadi) dan 5 nasabah komunitas (atas nama kelompok/lingkungan/kategorial). Dari 40 nasabah tersebut, total tabungannya Rp731.790. Sepanjang BS BAS berjalan, setiap kegiatan ada penambahan nasabah baru rata-rata 10–15 nasabah, jumlah penabung rata-rata 40–45 orang, dan total tabungan rata-rata di atas Rp1.000.000 per operasional.  Total tabungan tertinggi terjadi pada operasional ke-5, tanggal 18 Januari, mencapai Rp2.365.950. Hingga operasional terakhir (ke-7) pada 22 Februari, tercatat sudah ada 85 nasabah personal dan 12 nasabah komunitas, sedangkan total uang tabungan keseluruhan sebesar Rp9.174.018. Menurut info Sudin Lingkungan Hidup Jaktim, total sampah yang telah dikumpulkan dari BS BAS sebanyak 7.468,05 ton!

Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua RW 05 Kelurahan Bidaracina, Uripyanto. “Saya mewakili warga RW 05 Kelurahan Bidaracina merasa bangga karena dengan adanya bank sampah ini kita bisa menjaga lingkungan kita bersih, sehat, dan ada hasil untuk yang menabung,” ujar Uripyanto seraya menambahkan harapannya agar pihak BS BAS membagikan brosur/flyer ke setiap RT dan mengadakan sosialisasi agar warga lebih memahami kegiatan ini, karena belum banyak warga yang tahu bagaimana persisnya BS BAS ini. Selanjutnya, Lurah Bidaracina, Drs. D. Yudi Hartono, M.Si. menyampaikan pula rasa syukur atas berdirinya BS BAS dan membacakan SK BS BAS dan susunan pengurusnya. Ia mengajak para pengurus maju ke depan dan berfoto bersama.

Berikutnya, Herwansyah, SKM, M.Si. selaku Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur (Kasudin LH Jaktim) menyampaikan kebanggaan akan hadirnya BS BAS sebagai salah satu pendukung tercapainya target Sudin LH setiap 3 bulan, yaitu pengurangan sampah di sumber dan 20%-nya dapat diolah. Namun, ia menambahkan, masalah sampah ini tentunya tidak bisa diselesaikan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup sendiri, tetapi perlu peran serta masyarakat.

Herwansyah menyayangkan, “Kita mengajak orang membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit, karena ini mengubah perilaku. Kita sudah 70 tahun lebih merdeka, tetapi masih saja pakai moto itu (‘buanglah sampah pada tempatnya’—red.). Sekarang kita harusnya sudah memilah, mengurangi, dan mengolah sampah. Artinya, tantangan kita ke depan untuk mengolah sampah ini, suka tidak suka, mau tidak mau, harus dilaksanakan.” Apalagi, ia menekankan, gunung sampah di Bantar Gebang sudah luar biasa tinggi. Setiap hari ada 380 unit mobil yang mengantar sampah se-DKI Jakarta ke Bantar Gebang, dan total sampah yang dikirim ke Bantar Gebang mencapai 1.200 truk per hari!

“Apabila seluruh masyarakat di lingkungan RW se-DKI Jakarta bisa menabung sampah, kita bisa menghemat lebih kurang Rp 2 triliun setahun. Artinya, saya tidak perlu lagi beli BBM dan ganti ban mobil untuk membawa sampah ke Bantar Gebang,” tukas Herwansyah. Karena itu, ia terus melatih pengawas-pengawasnya (ada 276 petugas) untuk mengajak masyarakat mau menabung di bank sampah. Ia juga berharap gereja-gereja lain pun mendirikan bank sampah. Saat ini, di Jakarta Timur bank sampah baru ada di Paroki Rawamangun, Paroki Duren Sawit, dan yang ketiga Paroki Bidaracina. 

“Dari sampah jadi uang, dari sampah jadi kompos.” Ia menjanjikan untuk segera menyiapkan peralatan pendukung yang dibutuhkan BS BAS, yaitu gerobak sampah, mesin komposter, dan pupuk. Mesin komposter digunakan untuk mengolah sampah dapur menjadi kompos. Kompos dijadikan pupuk tanaman. “Ke depannya, kita tidak perlu beli pupuk, sudah bisa menghasilkan pupuk sendiri dari sampah kita sendiri. Dengan begitu, sampah tidak ada yang terbuang, baik sampah kering maupun sampah basah, semua bermanfaat. Jadikanlah suatu pahlawan di tempat sendiri. Saya yakin ilmu ini sangat bermanfaat,” pungkasnya.

Puncak acara adalah peresmian dan pemberkatan oleh Romo Andreas Nugroho, SCJ mewakili kepala paroki. “Menghilangkan sampah merupakan hal yang mustahil, tetapi sebagai bangsa, sebagai warga, kita tentu ingin menguranginya dan cara yang kita lakukan adalah seperti di tempat ini, memilah-milah sampah dan menjadikan berkah. Ini sebagai bentuk keterlibatan kita sebagai bangsa, juga tentunya selaras dengan kita sebagai warga gereja,” ujar Rm. Nugi.

“Kami bersyukur pada hari ini Kasudin Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Bapak Herwansyah, hadir di sini beserta Lurah Bidaracina dan Ketua RW 05 sebagai tanda bahwa ini adalah suatu gerakan untuk bersinergi bersama, untuk menciptakan lingkungan hidup yang nyaman dan layak untuk ditinggali,” tambah Rm. Nugi.

Beliau juga menyampaikan rencana pemilahan sampah dari awal. “Misalnya ketika ada pertemuan-pertemuan di paroki, setiap Sabtu/Minggu, sampah-sampahnya kami pilah, mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak. Supaya nanti akhirnya bisa jadi sesuatu yang bernilai, tidak dibuang begitu saja,” imbuhnya, kemudian menyatakan, “Dengan penuh rasa syukur dan bangga, kepada Tuhan Allah Yang Mahakuasa dan kepada Tuhan kita Yesus Kristus, kami buka Bank Sampah Berkah Alam Semestsa Paroki Bidaracina. Semoga ini menjadi berkah, tidak hanya untuk warga Katolik tetapi untuk semua kalangan, supaya bisa mengurangi sampah di sekitar kita.”

Sebagai puncak peresmian, Romo Nugi memotong tumpeng tanda syukur yang diberikan kepada Kasudin LH Herwansyah dan Lurah Bidaracina Yudi Hartono. Tak menunggu lama, para hadirin pun menyendok tumpeng ke piring masing-masing dan beramah tamah dengan penuh keakraban.

Syarat nasabah baru: datang membawa fotokopi KTP dan sampah kering yang sudah dipilah, pada saat operasional BS BAS, yaitu setiap hari SABTU, pada minggu kedua dan keempat tiap bulan, di area parkir depan kantin PSAA Vincentius Puteri (depan gerbang SD St. Antonius), pukul 08.00–10.30. Untuk nasabah atas nama komunitas, yang diserahkan adalah fotokopi KTP penanggung jawabnya. Nomor WA nasabah akan dimasukkan dalam Grup WA BS BAS.

Prosedur pengambilan tabungan: membawa buku tabungan dan mengisi formulir penarikan uang dengan saldo minimum Rp25.000. Uang bisa diambil pada operasional berikutnya, dua minggu kemudian. Apabila hendak menutup tabungan, barulah uang tabungan bisa diambil seluruhnya.

 

Veronica B.V. & Misske Klemen (Tim Komsos)