Header-biasa
Hari Rabu Abu
 
Puasa bukan hanya kegiatan ritual keagamaan belaka, namun Puasa menjadi upaya kita untuk memperbaiki diri , mengembangkan martabat kita sebagai citra Allah agar kita semakin dekat dengan Tuhan.  Tanda berpuasa pada masyarakat nabi Yoel  yakni menyobek pakaian, supaya mereka yang berpuasa dilihat oleh orang lain. Yoel menanamkan sikap religius dari puasa itu, bukan sekedar menyobek pakaian, tetapi menyobek hati, agar kita peka akan kerapuhan kita, memperbaikinya. Dengan demikian kita meninggalkan egoisme diri dan semakin  peduli dan mengasihi sesama.
 
Awal puasa ini kita mendapat tanda abu di kepala yang mengingatkan kita diciptakan Tuhan dari tanah. Kita ini pribadi yang rapuh, mudah jatuh dalam dosa. Dengan menyobek hati, memperbaiki kerapuhan ini, kita semakin dekat dengan Tuhan. Kita diperteguh oleh rahmat Tuhan dan kita bergerak mengembangkan kasih dan semakin peduli dengan sesama yang menderita.
 
Yesus dalam Injil hari ini menunjukan cara kita semakin dekat dengan Tuhan yakni  memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Inilah kewajiban kita sebagai orang beriman dan jalan hidup rohani kita untuk menjadi sempurna. Kita memberi sedekah kepada orang miskin yang menderita, hancur dan terbebani dalam hidup. Dengan uluran kasih ini kita ingin mengangkat martabat mereka, membantu agar dapat hidup layak dan lebih baik.
 
Kita mengembangikan hidup doa. Berdoa bagi kita berkomunikasi dengan Tuhan. Kita dapat mengungkapkan isi hati kita dan sekaligus mendengarkan Tuhan. Kita semakin dekat dengan Tuhan Bapa kita dan merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan ini.  Berpantang dan berpuasa bagi kita upaya untuk mengendalikan keinginan pribadi dan lebih terbuka kepada kehendak Allah. Tuhan tahu apa yang kita lakukan. Tuhan memberikan rahmat yang kita perlukan. Kita memantapkan relasi kita dengan Tuhan dan semakin mengembangkan kasih, kepedulian kita kepada sesama yang menderita.
 
Tuhan kami bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk puasa dan pantang ini.  Bimbinglah kami agar setia berpuasa dan berpantang selama masa Prapaskah ini dan kami menjadi semakin rendah hati, peka, peduli dan berbagi dengan sesama dan semakin mengarahkan hidup kami kepada-Mu. Amin 
 
Bidaracina 2 Maret 2022, Blasius Sumaryo SCJ