User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Sebagai bagian dari rangkaian acara Dasa Windu—pesta 80 tahun berdirinya Gereja St. Antonius Padua, Paroki Bidaracina—Subseksi Bina Iman Anak bekerja sama dengan Seksi Liturgi mengadakan Misa Anak Inkulturasi: Kita Bhinneka, Kita Indonesia, pada Minggu, 27 Mei, pukul 09.00.

Misa Anak Inkulturasi ini dipimpin oleh Romo Alfonsus Zeam Rudi, SCJ dengan paduan suara dari VOA (Voice of Anthony)—koor anak-anak asuhan Romo Philipus Aditya Subono, SCJ. Petugas liturgi dalam misa ini adalah anak-anak BIA Lingkungan St. Arnoldus Wilayah II yang membawakan tarian pengantar persembahan dan menjadi petugas pembawa persembahan, serta anak-anak BIA Polcamp (Wilayah XII) sebagai petugas lektor.

Menurut Kak Olive, Ketua Subseksi Bina Iman Anak, “Misa Anak ini sudah menjadi kegiatan rutin BIA di minggu terakhir setiap dua bulan. Yang berbeda adalah pada misa kali ini, kita ingin ikut mengedepankan kebinekaan sebagai bangsa Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, adat istiadat dan kebudayaan, dalam Perayaan Ekaristi.”

“Pada kesempatan ini pula, dalam rangka memeriahkan rangkaian acara Dasa Windu, kami juga bekerja sama dengan Seksi Liturgi yang telah banyak membantu dalam mempersiapkan tata liturgi terkait Misa Anak Inkulturasi,” lanjutnya.

Ketua Seksi Liturgi, Benediktus Teguh Cahyanto—yang akrab dipanggil Mas Teguh—mengatakan kesannya dalam acara ini, “Kebinekaan itu aneh jika tidak dibiasakan. Cara berpakaian yang berbeda (minggu sebelumnya sudah diumumkan agar umat hadir dengan berpakaian daerah—red.), umat lain melihatnya aneh karena di luar kebiasaan, tetapi dengan itu kita menjadi kaya, kreatif, dan belajar untuk memahami, menerima satu sama lain.”

“Harapan saya,” lanjut Mas Teguh, “ke depannya kita membiasakan diri untuk mendengar, menyatukan yang beragam itu menjadi kreatif, dan semakin mencintai sesama yang berbeda dalam penghayatan liturgi gereja yang saling bersinergi.” Namun, ia mengakui, masih banyak tantangan yang dihadapinya. “Tidak semua umat mau terlibat atau mendukung. Namun, yang penting, agar semua umat ikut dihargai, sehingga semakin banyak umat terlibat dalam kehidupan mengereja,” tutupnya.

Bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, misa anak inkulturasi yang diadakan pada jam misa yang paling sering dipadati umat ini diikuti umat dengan penuh antusias. Terlihat, hampir separuh umat hadir menggunakan pakaian khas daerah asal masing-masing. Yang menarik adalah pembacaan doa umat dengan menggunakan bahasa daerah oleh anak-anak BIA dan tarian pengantar persembahan yang diiringi lagu rohani terkenal dari daerah Sumatra Utara, yang berjudul Arbab.

Fordiyanto (Tim Komsos)