Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Khotbah yang diisi dengan “games” itu ternyata menghebohkan juga. Peserta, yang sebelumnya dibagi dalam beberapa kelompok, diminta maju untuk memainkan permainan “tebak gambar”. Peserta paling depan mencoba “menerjemahkan” gambar yang ditunjukkan Rm. Thomas Ferry Soeharto, OFM, dan memeragakannya kepada peserta lain, sambung-menyambung. Peserta yang paling di belakang meneriakkan jawaban sesuai dengan peragaan yang tadi sampai kepadanya.

Misa yang diisi dengan khotbah “berilustrasi” games ini adalah puncak acara “Pesta Rohani: One in God” yang diadakan pada Sabtu, 19 Mei lalu, di Gedung Hati Kudus Yesus Lantai 4. “Pesta” yang mengusung tema “Keluarga Kekinian: Gawai Yes, Gawat No!” ini membidik 3 golongan: orang tua, remaja dan anak-anak. Ketiga golongan ini dibidik karena sasaran kegiatan ini adalah untuk “membedah” komunikasi di dalam keluarga, yang disinyalir terganggu oleh kehadiran berbagai jenis gawai.

Dari 70 peserta dari Wilayah I–VII yang hadir, mayoritas adalah anak-anak dan remaja (orang tua hanya sekitar 20 orang). Rm. Ferry, yang aktif mengajar di Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS) Santo Paulus ini, menjadi pembawa materi bagi golongan orang tua, sementara remaja dipimpin oleh Kak Paulus Secundus dari Seksi Kepemudaan Stasi Tambun, dan anak-anak oleh Tim Imago Dei.

Rm. Ferry menyoroti bahwa gawai bukan sebagai hal yang membuat hidup kita gawat. “Gawatkah gawai kita?” tanyanya. “Yang gawat bukan gawainya, tapi kitalah yang gawat.” Menurutnya, selalu ada prinsip “man behind the gun” dari hampir semua persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. “Selalu oranglah yang bertanggung jawab, bukan alatnya.”

Lebih jauh, menurut Rm. Ferry,  “kenakalan” orangtua rupanya menjadi penyebab kenakalan anak-anak. “Orangtua tidak bisa lagi berkomunikasi di antara mereka masing-masing—suami atau istri—dan juga dengan anak-anak mereka,” tuturnya. Selain itu, komunikasi dalam keluarga juga sering diisi dengan berbagai “serbasalah”. Kesalahan pertama adalah salah penampilan, lalu salah waktu, salah isi, salah tempat, salah cara/metode, dan salah sasaran. “Salah penampilan,” katanya, “disebabkan komunikasi dilakukan dengan teladan yang buruk, misalnya ketika marah atau emosi tinggi.” Menurutnya, ini sangat berbahaya, karena otak anak menangkap apa yang dilihat dan diajarkan padanya sampai usia 13–14 tahun. “Setelah usia itu, ia hanya akan menerima apa yang disukainya. Yang tidak disukainya akan dibuang.”  

Sesi paling menarik adalah ketika semua kelompok diminta membuat video bertemakan keluarga dan komunikasi. Selama sekitar satu jam, kelompok yang terdiri dari orangtua dan remaja atau anak-anak itu berpencar untuk menggarap video terbaik mereka. Ada yang membuatnya di lantai 5 Gedung Hati Kudus Yesus, ada yang membuatnya di koridor lantai 1, di tempat parkir, bahkan ada yang membuatnya di depan gereja. Pengumuman pemenang disampaikan dalam khotbah misa penutup ini. Kelompok yang dipimpin Samuel Hertian menjadi pemenang pertama dan meraih 1 voucher makan di restoran. Pemenang ke-2 dan ke-3 yang juga memperoleh voucher makan, hanya dengan nilai yang lebih kecil.

Selain membagi-bagikan beberapa hadiah doorprize,  di depan peserta, Kak Paulus Secundus sempat mendemonstrasikan bagaimana sebuah rumah bisa hancur karena komunikasi dengan menyobek-nyobek selembar kertas. Ketika tersisa suatu lipatan kertas yang berbentuk panah menunjuk ke atas, ia berkata, “Kita tidak boleh putus asa, karena di atas masih ada harapan.” Sambil berkata demikian, ia membuka lipatan kertas itu, yang menyisakan kertas berbentuk salib.

“Keluarga itu menjadi inti hidup bergereja,” ujar Rm. Blasius Sumaryo, SCJ, pada awal acara. Kalau keluarga berbahagia dan harmonis, gereja akan semakin kuat.” Di dalam keluarga, menurutnya, komunikasilah yang menjadi nomor satu dan pemersatu.  Kiranya, “pesta rohani”—alias rekoleksi keluarga—yang diadakan dalam rangka Perayaan Dasa Windu Gereja St. Antonius Padua, Paroki Bidaracina, ini bisa menguatkan komunikasi di tengah-tengah keluarga umat Paroki Bidaracina.  

Acara serupa (Gelombang II) akan diadakan lagi pada 28 Juli 2018, untuk Wilayah VIII–XIV.

Eko YAF (Tim Komsos)