Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Tahun 2017 lalu, difteri kembali mewabah di beberapa wilayah di Indonesia dan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Oleh sebab itu, Seksi Kesehatan Paroki Bidaracina bekerja sama dengan Rumah Sakit St. Carolus mengadakan seminar kesehatan “Waspada Bahaya Difteri” pada Sabtu (28/4). Seminar ini turut mengundang dr.Maria Martina Siboe, SpA., dokter spesialis anak RS. St. Carolus. Selain itu, seminar ini juga memberikan pengetahuan mengenai asupan gizi seimbang agar mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit menjadi kuat yang dibawakan oleh dr. Maria Poppy Herlianty, M.Epid, seorang dokter yang mengajar di Universitas M.H. Thamrin dan juga merupakan pengurus inti Seksi Kesehatan Paroki Bidaracina.

Difteri menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria yang sangat mudah menular dan berbahaya. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian akibat obstruksi larings atau miokarditis akibat aktivasi eksotoksin. Menurut dr. Tina, kasus difteri sebenarnya sudah hilang. Kemunculan penyakit menular tersebut di Indonesia pada tahun 2017 disebabkan karena adanya imunity gap. “Waktu itu, 90% anak Indoensia sudah diimunisasi. Tapi karena ada 10% yang belum diimunisasi, maka terbentuklah kelompok imunitas yang menjadi carrier atau pembawa penyakit difteri,” jelas dr. Tina. Sumber utama dari meluasnya kasus difteri ini adalah manusia itu sendiri. Cara penularan penyakit ini begitu mudah, yaitu melalui udara. “Hanya melalui bicara saja penyakit ini sudah bisa menyebar,” ungkap dr. Tina. Tak hanya itu, difteri juga dapat menyebar melalui kulit, seperti terkena percikan air liur atau minum dari botol yang sama dengan orang yang terinfeksi dengan difteri.

Dr. Tina menjelaskan gejala yang muncul dari penyakit ini terjadi satu minggu semenjak adanya kontak dengan penderita difteri. Ciri-ciri yang paling terlihat dari seseorang yang terinfeksi difteri adalah munculnya selaput putih yang tebal di tenggorokan, nyeri saat menelan, leher bengkak, nafsu makan menurun, tubuh semakin lemas, dan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi—nyaris seperti suhu normal.

Difteri dapat menyebabkan kematian karena penderita tidak mendapat penanganan cepat. “Kebanyakan orang kalau sakit saat menelan menunggu satu sampai tiga hari baru ke dokter. Padahal proses penyakit ini begitu cepat,” jelas dr. Tina. Oleh sebab itu, dr. Tina menganjurkan seluruh peserta seminar untuk melakukan imunisasi ulang untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri.

Seusai materi mengenai difteri dan bagaimana pencegahannya yang disampaikan oleh dr. Tina, peserta menerima pembekalan mengenai cara menjaga kekebalan tubuh dengan memperbaiki asupan gizi sehari-hari yang dibawakan oleh dr. Poppy. Dalam penjelasannya, dr. Poppy mengingatkan kembali para peserta seminar mengenai makanan 4 sehat 5 sempurna, cara menghitung indeks massa tubuh, dan berbagai manfaat yang didapatkan jika asupan gizi sehari-hari dapat tercukupi. Asupan gizi yang seimbang berasal dari makanan yang bervariasi. Protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang bersumber dari makanan lauk-pauk dan sayur serta buah berwarna dapat meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) terhadap penyakit, termasuk infeksi. Oleh sebab itu, seseorang akan kebal terhadap penyakit dan berpengaruh terhadap berat atau ringannya penyakit yang akan dideritanya. Di penghujung acara, peserta juga dibekali mengenai usaha-usaha kreatif yang bisa dilakukan oleh semua orang oleh Hendryanto yang mewakili Komunitas Djitu (Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, dan Ulet). Sebelum kembali ke rumah masing-masing, peserta menikmati santap siang yang telah disediakan oleh panitia.

“Seminarnya sangat bermanfaat bagi kami untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyakit difteri. Para dokternya juga dapat menyampaikan materi dengan baik dan mudah dipahami,” kata Susi, salah satu peserta dari Paroki Jatiwaringin, Gereja St. Leo Agung.

Veronica Gabriella (Tim Komsos)