User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Semangat Melayani dalam Temu Prodiakon Dekenat Timur

Semangat prodiakon sejalan dengan semangat Kongregasi SCJ, yaitu “Ecce Venio”, yang artinya: Aku datang untuk melakukan kehendak Tuhan. Artinya, mempunyai jiwa dan semangat pelayanan, serta siap diutus untuk saling melayani.

Demikian sambutan Romo Blasius Sumaryo, SCJ dalam acara Temu Prodiakon (Tepro) ke-43 Dekenat Timur, Sabtu (9/9). “Membangun Persaudaraan Sejati dalam Pelayanan Kasih” adalah tema yang diusung dalam Tepro yang diadakan tiga bulan sekali itu, dengan Paroki Bidaracina sebagai tuan rumahnya.

Romo Maryo melanjutkan, dasar pembentukan prodiakon adalah Kisah Para Rasul 6, yang mengisahkan para rasul mengangkat tujuh orang untuk membantu melayani jemaat perdana di bidang sosial, karena para rasul harus juga melayani Sabda. Demikianlah, prodiakon diutus untuk membantu pastor di gereja, sekaligus memiliki tugas lain yaitu mengurusi masalah sosial. 

“Yang ditanamkan adalah semangat untuk rela melayani. Salah satu tugasnya adalah memberikan komuni. Maka, untuk siap menjadi Ecce Venio, sangat diperlukan unsur kerja sama. Kalau ada yang berhalangan bertugas karena harus mengurus keluarga dsb., yang lain harus siap sedia menggantikan, sehingga keperluan pribadi serta pelayanan bersama saling terpenuhi,” jelas beliau, sambil menyatakan rasa syukur dan gembira melihat banyaknya peserta yang hadir. “Semakin banyak yang terlibat, semakin banyak juga inspirasi yang bisa diwujudkan bersama-sama.”

Pada acara yang diadakan di Ruang St. Angela Sekolah St. Vincentius itu, kursi-kursi sengaja ditempatkan mengelilingi meja-meja bundar dan di satu meja terdapat prodiakon dari berbagai paroki, “agar peserta bisa saling mengenal dan akrab dengan sesama prodiakon se-Dekenat Jaktim,” tutur Stephanus Bambang Setio, selaku Ketua Panitia Penyelenggara Tepro ke-43 ini. “Juga, agar tidak ngumpul dengan rekan separoki saja, saat makan siang diharapkan semua tetap di tempat duduk masing-masing. Kami (panitia) yang akan melayani.”

Sebelum Romo Markus Tukiman, SCJ mengajak para prodiakon berefleksi, diadakan sesi foto bersama di halaman Vincentius, dibantu Tim Komsos Bidaracina. Selain foto semua peserta yang hadir (92 orang), prodiakon per paroki juga berfoto bersama para romo, suster, dan panitia inti. Kesembilan paroki Dekenat Timur mengirimkan wakil, mulai dari dua orang, hingga 11 orang. Sedangkan, dari pihak tuan rumah hadir 34 orang.

Mempertajam makna pelayanan dan persaudaraan yang diangkat dalam tema kali ini, Romo Markus menyampaikan “filosofi persaudaraan”, yaitu kata “saudara (brother)” yang menunjuk pada pribadi atau fisik dan “persaudaraan (brotherhood)” yang menunjuk pada relasi atau psikis. “Menjadi sangat penting ketika kita ingin merenungkannya dalam konteks pelayanan kristiani. Persaudaraan tidak bisa terjadi begitu saja, harus dibangun,” tegasnya, sambil kemudian menerangkan makna baru persaudaraan yang ditunjukkan Yesus, yaitu persaudaraan sejati: relasi Bapa, Putra, dan Roh Kudus, yang digambarkan Santo Paulus sebagai satu tubuh dengan banyak anggota.

Romo Markus mengajak peserta melihat potongan film berjudul Son of God sebagai contoh persaudaraan sejati ala Yesus, yaitu mendekati Petrus yang sedang menjala ikan dan mengajaknya mengikuti Dia. Beliau mengungkapkan “6A” yang harus dijiwai prodiakon: Acceptance (penerimaan), Appreciating (penghargaan), Agreeable (menciptakan suasana nyaman, tenang, bahagia), Admiration (mengagumi kualitas pribadi orang lain), Approval (memberikan pujian dan penerimaan yang baik atas segala PROSES dan pencapaian orang lain), dan Attention (perhatian), sehingga mereka merasa berharga dan penting. 

Diputar pula cuplikan film The Life of Christ, tentang Yesus yang membangkitkan Lazarus. “Prodiakon jangan merasa lebih tinggi daripada mereka yang dilayani, tetapi harus seperti Yesus yang mau terjun ke pantai mendekati Petrus, mau berjongkok di hadapan Marta dan menyejajarkan situasi batin-Nya. Juga, prodiakon tidak boleh lupa kata-kata sakti: ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terima kasih’. Tugas selanjutnya adalah bagaimana menumbuhkan persaudaraan sejati dengan 6A tadi,” pesan Romo Markus mengakhiri refleksinya.

Selagi makan siang, salah satu prodiakon, Kurniadi, menghibur dengan lagu-lagu nostalgia era ’60–‘70-an dengan suaranya yang “oldies banget”, diiringi permainan keyboard Widi Kurniawan. Usai  makan siang, agar tidak ngantuk, peserta diajak mengucapkan yel-yel yang membangkitkan semangat. Setelah pengumuman dan informasi kegiatan FKPD, acara ditutup dengan doa dan bersalam-salaman. 

Panitia masih menyempatkan berkumpul untuk mengevaluasi kerja bersama itu sebelum mereka bubar. Rambut yang memutih dan usia yang rata-rata tak muda lagi tak membuat mereka loyo. Sebaliknya, semangat pelayanan, solidnya persaudaraan, serta rapinya koordinasi antarpanitia, hingga kesigapan mereka merapikan ruangan usai acara, sungguh patut dicontoh. Semoga prodiakon selalu setia melayani Dia. Amin.