User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Ada seorang anak yang memiliki boneka kesayangan sejak ia masih bayi. Kemana saja ia pergi, ia selalu membawa boneka itu, bahkan ketika ia pergi tidur. Pada hari pertama sekolah, orangtuanya meminta agar boneka itu dilepaskan sebentar, saat ia harus masuk kelas. Namun anak itu tidak mau, dan malah menangis sambil memeluk bonekanya. Boneka itu seakan sudah melekat menjadi bagian dari segala aktivitasnya. Dengan sabar orang tuanya memberi pengertian, dan pada akhirnya sang anak dapat menerima penjelasan dari orangtuanya, dan melepaskan boneka tersebut.

Dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini, ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh telah melaksanakan perintah Allah, namun ia masih ingin mendapat kepastian apakah tindakannya sudah tepat, dan apakah dengan melakukan semua itu ia dapat memperoleh jaminan akan hidup yang kekal. Yesus memahami keadaan orang tersebut, Ia melihat ada satu hal yang masih menjadi batu sandungannya, yaitu harta miliknya. Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, serta meminta orang itu untuk menjual segala hartanya untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang miskin. Mendengar jawaban Yesus, sedih dan kecewalah dia. Harta bendanya sangat banyak, dia merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Maka pergilah orang itu meninggalkan Yesus.

Yesus kembali menekankan kepada murid-murid-Nya,  betapa sulit seorang kaya yang ingin mengikuti diri-Nya. Selain harus menjalankan perintah Allah, ia juga harus rela melepaskan harta duniawinya. Tantangan Yesus jelas berat, sebab apa jaminan hidupnya kelak bila seseorang melepaskan semua harta yang ia miliki. Bagaimana ia dapat bertahan hidup jika tidak memiliki apapun? Para murid tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Lalu Yesus menambahkan perumpamaan bahwa betapa lebih mudahnya seekor unta melewati lobang jarum, daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dalam mata manusia tentu hal itu mustahil. Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Manusia cenderung lamban menanggapi tanda-tanda dari Allah, sebab manusia sudah lebih dahulu takut untuk melangkah ketika tidak ada jaminan apapun bagi dirinya. Padahal untuk bisa masuk melalui “lobang jarum” yang kecil, manusia dituntut kerelaan hatinya untuk menanggalkan segala harta yang masih melekat di dirinya.

Petrus mengatakan bahwa mereka sudah melakukan semua itu, melepaskan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Mereka tidak memiliki harta apapun lagi, segala sesuatunya mereka jalankan bersama Yesus, Dialah kini yang menjadi pegangan hidup mereka. Yesus menjawab, bahwa segala sesuatu yang telah mereka korbankan, yang telah mereka tinggalkan dan lepaskan, pada masa ini juga akan kembali kepada mereka seratus kali lipat, bahkan sekalipun mereka dianiaya pada zaman yang akan datang, mereka akan memperoleh jaminan hidup yang kekal.

Kekhawatiran manusia akan jaminan hidup yang sejahtera dan aman, menjadikan manusia seperti terbelenggu, terikat pada harta miliknya. Harta itu mungkin tidak hanya berupa materi, bisa juga orang-orang yang kita kasihi, atau pikiran dan kehendak kita. Itu semua masih membatasi kita untuk sepenuhnya yakin dan percaya pada penyelenggaraan Allah. Kita cenderung mengukur dan menimbang segala sesuatunya dengan kapasitas hitungan manusia. Padahal, jika kita sungguh ingin mengikuti Yesus, dibutuhkan pengorbanan dan pengabdian yang total. Akan lebih seimbang bila kita tidak hanya menjalankan perintah Allah, tetapi juga berani melepaskan segala kelekatan dalam kacamata manusiawi kita. Tidak ada kekhawatiran dan keraguan, Allah menjamin dengan ganjaran yang lebih bernilai, yaitu hidup yang kekal kelak bersama dengan-Nya.

Salam Bang Anton.